Dukung SayaDukung Pakde Noto di Trakteer

[Latest News][6]

abu nawas
abunawas
berbayar
Budaya
cerbung
cerkak
cerpen
digenjot
gay
hombreng
horor
hot
humor
informasi
LGBT
mesum
misteri
Novel
panas
puasa
sejarah
Terlarang
thriller

Labels

TEMPE BOSOK (CERPEN)

 

Sejak Ibu meninggal, aku hidup dengan Bapak. Namun, dia bukan bapak kandung, melainkan bapak tiri.

Kata orang kampung, dulu bapakku adalah orang kaya. Kekayaannya diwariskan kepada Ibu tetapi kini Ibu sudah tenang dan berkumpul dengan Bapak di sana.

Karena menikah lagi dengan Wagiman, namaku di surat wasiat sebagai ahli penerima warisan telah berubah. Warisan Ibu jatuh kepada ... orang-orang kampung menyebut bapak tiriku dengan sebutan Bendoro Wagiman, orang kaya yang tanahnya ada di mana-mana.

Akan tetapi, yang aku tahu ... bapak tiriku itu tidak layak jadi bendoro. Sejak Ibu meninggal, Bendoro Wagiman sering main perempuan untuk melampiaskan hasrat yang tersumbat. Dasar ngacengan!

 

****

 


Saat petang datang, ketika orang-orang mulai pulang, aku sering duduk di bangku kayu dekat warung kopi, tidak jauh dari pasar desa. Di situlah aku mengenal Sumi.

Aku muak di rumah. Muak dengan tingkah laku Bendoro Sugiman!

Umur Sumi sekarang 35 tahun, walaupun lebih tua, aku menemukan kebahagiaan saat bersamanya.

Aku tidak tahu banyak tentang pujaan hatiku itu. Sumi juga tidak banyak bercerita tentang hidupnya. Namun, bagiku itu tidak penting, yang penting aku bahagia saat bersamanya.

Namaku Sapar, umur 23 tahun.

Meski beda usia, aku dan Sumi sudah pacaran 4 bulan lalu.

 

****

Aku melihat Sumi datang, mengenakan pakaian sopan, dan memakai kerudung. Dia langsung menghampiriku.

“Kok cembetut ngono iku to?” (Kok cemberut begitu) tanyaku ketika Sumi duduk di sampingku.

“Aku pingin urep bioso, Mas,” (Aku pengin hidup biasa, Mas) balasnya.

“Bioso kepiye?” (Biasa bagaimana) tanyaku bingung.

 “Yo, pingin duwe omah, duwe keluargo. Ora terus-terusan ndelik-ndelik ngeneki.” (Ya, punya rumah, punya keluarga. Tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi).

Aku tidak mengerti maksudnya, tetapi aku mengangguk. Aku membayangkannya, aku juga ingin punya rumah sendiri, punya anak, dan selalu ada untuknya sebagai suami.

“Nek ngono, aku gelem ngrabi awakmu,” (Kalau begitu, aku akan menikahimu) ucapku.

Sumi terdiam.

“Gelem to?” (Mau ‘kan?).

Dibalas Sumi dengan menggeleng.

“Ora iso, Mas. Aku ra iso.” (Aku tidak bisa, Mas).

Dadaku langsung sesak. “La ngopo?” (Kenapa?).

Dia menatapku, lalu berkata pelan, “Wes enek wong ... enek wong seng arep ngrabi aku ndisek.” (Ada orang … yang mau menikahiku lebih dulu).

Kini aku yang terdiam.

“Sopo wonge?” (Siapa lelaki itu?).

Sumi tidak mau menjelaskan.

“Awakmu wes nglarani atiku, Sum. Ajur rasane ati iki!” (Kamu mengabaikan perasaanku, Sum. Hancur hatiku!). Aku bergegas pergi meninggalkannya dengan perasaan marah, benci, dan kecewa.

 

****

 

Petang berikutnya.

Seperti biasa, aku duduk menunggunya.

Kepalaku mulai dipenuhi oleh pikiranku sendiri. Tentang seseorang yang mengambil Sumi dariku, tentang sakit hati, tentang kehilangan.

Sumi datang lalu duduk di sampingku. “Wes ket mau, Mas?” (Sudah lama, Mas?).

“Ah, gurung,” (Ah, belum) balasku.

Aku dan Sumi tak pernah sekalipun membuat janji, tetapi kami akan selalu bertemu ketika petang.

“Kapan awakmu kate rabi?” (Kapan kamu akan menikah?).

Sumi tertunduk.

Kuberanikan untuk menggenggam tangannya. “Gak opo-opo nek dewe gung jejodoan, ning oleh gak nek aku ....” (Tidak apa-apa kalau kita belum berjodoh, tetapi bolehkah aku ....).

Sumi menatap mataku, seperti menunggu lanjutan kata-kataku.

“Oleh opo to, Mas?” (Boleh apa, Mas?).

“Oleh to nek pisan ae awakku ngrasakne ngonoan?” (Bolehkah sekali ini saja aku merasakan yang namanya begituan?).

“Ngko gek kuciwo, Mas.” (Apa Mas tidak akan kecewa nantinya.) Sumi seakan-akan tahu maksud ucapanku.

Aku balik bertanya, “Kuciwo piyw?” (Maksudmu kecewa?).

“Mas lo jek perjoko, la aku iki wes ....” (Mas masih perjaka, sementara aku sudah ....).

“Gak urusan, Sum. Oleh to nek aku pisan ae ... iku bukti tresnoku.” (Aku tidak peduli, Sum. Izinkan aku sekali ini ... bukti cintaku padamu).

“Ora neng kene to?” (Tidak di sini ‘kan?).

“Edan po, Sum. Yo gak to. Sesok aku ngenteni awakmu neng kene. Piye?” (Gila, Sum. Ya tidak. Besok aku akan menunggumu di sini. Bagaimana?).

Sumi mengangguk.

 

****

“Dari mana kamu, Le! Sebagai anak Bendoro, tidak ilok keluyuran malam-malam!” Seperti biasa, Bendoro Sugiman sudah menungguku di ambang pintu.

Aku tak peduli. Dia bukan bapakku!

Bergegas aku masuk tanpa menjawab pertanyaannya.

“Arek semprul! Dulu begitu cara orang tuamu mendidikmu, ha! Gak duwe unggah-ungguh!”

Kontan aku membalikkan badan saat dia menyebut-nyebut orang tuaku yang sudah tiada.

“Unggah-ungguh? Kalau orang punya unggah-ungguh, tidak seharusnya namaku diganti sebagai penerima warisan Ibu!” jawabku ketus lantas meninggalkannya pergi.

“Bapak kate ngomong, Le!” (Bapak ingin bicara, Le!).
Terserah! Aku sudah tidak peduli.

 

****

Aku menemui Pakde Noto, lelaki baya yang menjadi abdi di rumah ini.

“Ngopo neh, he? Padu neh kambek Bendoro?” (Kenapa lagi, he? Bertengkar lagi dengan bapakmu?).

“Dia bukan bapakku, Pakde.”

“Gak oleh ngono, Le. Bendoro Wagiman iku tetap dadi bapakmu masio kualon.” (Tidak boleh begitu, Le. Bagaimanapun Bendoro Wagiman adalah bapakmu, meskipun statusnya tiri).”

“Kersanelah, Pakde. Kulo mboten bade mbahas Perkawes Bendoro Wagiman. “(Sudahlah, Pakde. Saya tidak mau membahas perkara Bendoro Wagiman)..”

“La, terus?”
Aku diam sejenak. Pakde Noto sudah seperti bapak buatku, aku sering cerita kepadanya ... masalah apa pun. Ya, aku lebih dekat dengan Pakde Noto daripada bapak tiriku itu.

“Ladalah. Kok malah nglamun. Eneng opo to jane, Le?” (Kok malah melamun. Memangnya ada apa, Le?).
Aku lantas membisikkan kalimat tanya ke telinganya, “X-:Ydr^%!** Tittttt.” (Sensor).

“Ha! tenane, Le?” (Ha! Serius, Le?).

“Nggeh, Pakde. (Iya, Pakde).

“Coro ngono iku gak pareng, Le.” (Cara seperti itu tidak boleh, Le).

“Atiku loro, Pakde. Kulo kedah mbales loro ati niki.” (Hatiku sakit, Pakde. Aku harus membalaskan sakit hati ini).

“Gak kudu nganggo coro ngono iku lo, Le. Mbahayani!” (Tidak dengan cara begitu loh, Le. Itu bahaya!).

“Pakde ngertos corone nopo mboten!” (Pakde tahu caranya apa tidak!) todongku langsung saja ketika Pakde Noto sepertinya enggan memberitahu hal yang kutanyakan.

Pakde Noto mengangguk. “Iyo. Pakde roh corone, Le.” (Iya, pakde tahu caranya, Le).

 

****

Keesokan harinya.

Aku melihat Pakde Noto sedang membersihkan kursi di ruang tamu. Sebagai abdi di rumah ini, tugas Pakde Noto adalah membersihkan rumah.

“Nopo wonten tiyang medayoh maleh, Pakde?” (Mau ada tamu datang lagi, Pakde?).

“Gak, Le. Bendoro gak nompo dayoh dino iki,” (Tidak, Le. Bendoro sedang tidak menerima tamu hari ini) jawabnya.

Tak lama kemudian kulihat Bendoro Wagiman masuk, tetapi yang membuatku tercengang tak percaya, yaitu ....

Bendoro Wagiman melangkah masuk dengan menggandeng tangan seorang perempuan dan perempuan itu adalah ....

“Sumi,’ kataku lirih tanpa sadar, menyebut namanya.

Kami semua terdiam.

“Ngapunten, Ndoro. Kulo bade teng wingking riyen,” (Ndoro, saya ke belakang dulu) kata Pakde Noto memecah suasana yang kurasakan tegang.

“Bapak mau menikahinya,” kata Bendoro Wagiman santai.

Aku hanya bisa diam. Inikah orangnya yang Sumi ceritakan? Orang itu adalah Bendoro Wagiman, bapak tiriku sendiri!

 

****

Seminggu kemudian.

“Bendoro Wagiman teng pundi, Pakde?” (Bendoro Wagiman ke mana, Pakde?) tanyaku kepada Pakde Noto yang sedang membersihkan kamar.

“Bendoro neg kuto, Le” (Bendoro ke kota, Le) jawabnya.

Ya, sudah. Aku lantas berbalik badan meninggalkan Pakde Noto.

“Ngeterno Sumi.” (Mengantar Sumi) tambahnya.

“Ha!” Aku menghentikan langkah. “Sumi, gerah?” (Sumi sakit?) tanyaku.

Pakde Noto mengangguk.

“Bongko! Ben awakmu ngrasakno loro ati iku kepiye!” (Mampus! Biar kamu merasakan rasanya sakit hati itu bagaimana!) batinku lalu tertawa penuh kemenangan, “Ha ha ha.”

“Ojo nggowo-nggowo pakde nek onok opo-opo kambek Sumi, Le.” (Jangan bawa-bawa pakde kalau terjadi apa-apa dengan Sumi, Le).

“Tenang mawon, Pakde,” balasku lalu melangkah dengan tawa bahagia, “Ha ha ha.”

 

****

Malam harinya.

Bendoro Wagiman memanggilku.

“Duduk!” perintahnya.

Aku duduk berseberang meja dengannya.

“Kamu orang terakhir yang menikmati tubuh Sumi. Iya!”

Aku tidak bisa bohong lagi. Kini Bendoro Wagiman sudah tahu.

“Sumi sudah menceritakan semuanya, tentang malam itu, tentang apa yang kalian berdua lakukan di rumah kosong belakang pasar!”

“Aku tahu kamu bawa sesuatu,” imbuhnya. Nada suara dan sikap Bendoro Wagiman mendadak berubah menjadi tenang.

“Kamu telah mengoleskan telur busuk, ‘kan?”

Aku diam, tidak bisa menyangkal karena Sumi mungkin telah menceritakan semua kepadanya.

Ya, berkat bantuan Pakde Noto aku sudah membalaskan sakit hatiku kepada Sumi. Dia lebih memilih menikah dengan lelaki lain, dan aku baru tahu kalau lelaki itu adalah bapak tiriku.

Waktu aku menemui Pakde Noto, aku membisikkan sesuatu kalau aku mau membuat Sumi merasakan betapa hancurnya hatiku. Kalau Sumi tidak bisa kumiliki, maka siapa pun orangnya, tidak bakal bisa memilikinya.

Aku mau Sumi menderita. Pakde Noto menyarankan agar aku mengoleskan telur busuk di ‘burungku’ lalu membenamkannya ke ‘tempenya’ Sumi

Petang itu, ketika aku meminta izin untuk sekali saja ... Sumi menerimanya.

Di belakang pasar, di rumah kosong aku menggarap Sumi. Semua begitu indah karena pertama kali aku baru merasakan surga dunia.

Masalah telur busuk? Pakde Noto yang menyarankan agar aku memakai wewangian untuk menyamarkan baunya, dan itu berhasil. Buktinya Sumi tak menyadari kalau aku telah mengoleskan cairan busuk menjijikkan dan bau itu ke burungku.

Kuakui, saran Pakde Noto memang cespleng! Aku hutang budi kepadanya.

“Sumi terkena sifilis,” kata Bendoro Wagiman membuyarkan lamunanku.

Aku tak merasa kaget, sebab itu tujuanku dengan meminta bantuan Pakde Noto.

Aku mau ‘tempenya’ Sumi membusuk!

“Akan tetapi, kamu salah,” imbuh Bendoro Wagiman.

Kontan mimik wajahku berubah, dahiku berkernyit. “Salah?” tanyaku.

Bendoro Wagiman menjawab, “Kalau kamu pikir telur busuk yang kamu oleskan telah membuat Sumi terkena Sifilis!”

Aku menatapnya, mata Bendoro Wagiman kini tajam menghunjam jantungku.

“Sumi sudah terena sifilis … jauh sebelum kamu melakukannya di belakang pasar desa.”

Dunia seakan-akan runtuh, jantungku mulai dag,dig, dug mendengarnya.

“Bapak yang menularkannya,” katanya lagi, terdengar tanpa penyesalan.

“Ha!” Kali ini aku sungguh dibuat terkejut.

“Sumi sudah terkena sifilis sewaktu bilang mau berhenti menjual diri,” lanjutnya.

“Bapak sudah menularkannya. Sebagai penebus rasa bersalah, bapak akan menikahinya.”

Kini anganku mengingat pertemuanku dengan Sumi, tentang matanya, tentang kelelahan di wajahnya, tentang cerita yang tidak bisa kupahami.

Ternyata Sumi lonte, tuna susila, dan Bendoro Wagiman yang doyan main perempuan sering memakai jasanya.

Pantas saja aku hanya bertemu Sumi ketika petang. Apakah malamnya dia ...? Ah! Bangsat! Ternyata Sumi menjajakan dirinya saat malam!

“Jadi, apa ... apa yang harus ... harus kulakukan?” tanyaku gugup. Sungguh aku takut kini.

Bendoro Wagiman berdiri lalu menepuk pundakku. “Tidak ada yang harus kamu lakukan, Le. Kamu hanya terlambat.”

Bendoro Wagiman pergi meninggalkanku sendiri, tetapi aku melihat kalau dia tersenyum, senyum yang sulit kuartikan.

 

****

 

Enam malam berikutnya

Aku tidak bisa tidur, bukan karena suara, bukan karena pikiran yang tak menentu, tetapi malam ini kurasakan ada yang berbeda, burungku terasa perih.

Bergegas aku bangkit, aku harus menemui Pakde Noto dan bertanya kenapa burungku terasa perih! Apakah aku telah tertular sifilis dari Sumi? Celaka!

 

****

Aku mengetuk pintu rumah para abdi yang ada di belakang, rumah Pakde Noto.

Tok! Tok! Tok!

Sungguh aku khawatir, takut kalau aku benar-benar telah ....

“Madosi sinten, Le?” (Mencari siapa, Le?” tanya Mbah Dikum.

“Pakde Noto wonten, Mbah?” (Pakde Noto ada, Mbah?)

“Ealah. Noto wes ora kerjo neng kene neh.” (Noto tidak lagi bekerja di rumah ini).

“Ha! Awit kapan, Mbah?” (Sejak kapan, Mbah?”

“Mau isuk sandangane wes dikukuti.” (Tadi pagi semua pakaiannya sudah diberesi).

Kaki lemas, jatuh berlutut di depan pintu rumah Pakde Noto.  “Hu hu hu.” Air mataku jatuh. END

 

 

 

 


PAKDE NOTO

Baca juga cerita seru lainnya di Wattpad dan Follow akun Pakde Noto @Kuswanoto3.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search